Minggu, 17 Juli 2011

GAMBARAN STUKTUR DAN POLA PERTUMBUHAN SERTA TINGKAT DISPARITAS PEREKONOMIAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2005-2008 MELALUI EKSPORASI DATA PDRB


PENDAHULUAN
Pembangunan pada dasarnya ditujukan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, baik secara material maupun spiritual, yang pada hakekatnya secara ekonomi dilaksanakan antara lain dengan cara meningkatkan pertumbuhan ekonomi (LPE) dan memeratakan pendapatan per kapita (Ycap). Sebagai tujuan pembangunan yang ingin dicapai, maka pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pendapatan merupakan tolok ukur keberhasilan pembangunan.
Pertumbuhan ekonomi merupakan syarat mutlak untuk meningkatkan total pendapatan, disisi lain pemerataan pendapatan dapat diartikan dalam dua maksud, yaitu: 1) meningkatkan pendapatan yang berada di bawah “garis pendapatan rendah”, dan 2) memperkecil/mempersempit ketidaksamaan (disparitas) tingkat pendapatan.

Guna melihat tolok ukur keberhasilan tersebut, salah-satu cara sederhana dapat dihitung melalui eksplorasi data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten/Kota, melalui berbagai analisis diantaranya yang akan digunakan pada tulisan ini adalah analisis Klassen Typology, Gini Ratio dan Kriteria Bank Dunia serta Indeks Williamson.
Namun perlu dimaklumi, sehubungan Kabupaten/Kota di Jawa Barat yang tidak memiliki PDRB dari hasil minyak dan gas (12 Kab dan 9 Kota dari 17 Kab dan 9 Kota), maka analisis dalam tulisan ini didasarkan atas data PDRB tanpa Migas. Hal ini didasarkan asumsi bahwa (Sjafrizal; 1997;28) produksi daerah dari hasil migas pada umumnya ditujukan untuk ekspor dan kurang berkaitan dengan kegiatan ekonomi daerah setempat, akibatnya dampak produksi migas akan lebih banyak dirasakan oleh perekonomian nasional dalam bentuk penerimaan devisa. Seperti halnya dalam perhitungan laju pertumbuhan ekonomi, untuk melihat perkembangan dan disparitas perekonomian maka dalam analisis ini hanya menggunakan data PDRB konstan tanpa hasil migas.


ANALISIS
Analisis Klassen Typology
Klassen Typology (KT) pada dasarnya merupakan pembagian dua indikator utama, yaitu pertumbuhan ekonomi (r) dan pendapatan per kapita (Y) yang dapat digunakan untuk melihat pola dan struktur pertumbuhan perekonomian suatu daerah. Pembagian dua indikator utama tersebut menghasilkan 4 kuadran/bagian tipologi yang terdiri dari: I. Daerah daerah cepat-maju ( dan cepat-tumbuh ( (high growth and high income); II. Daerah maju tapi tertekan ( (high income but low growth); III. Daerah berkembang cepat ( (high growth but low income); dan IV. Daerah relatif tertinggal ( (low growth and low income).
Untuk lebih dapat menggambarkan perkembangan pergeseran kuadran, pada analisis ini dilakukan gambaran dua tahap perkembangan, yaitu gambaran perkembangan PDRB tahun 2005-2006, dan PDRB tahun 2005-2008 dengan menggunakan ambang batas Klassen Typologi PDRB tahun 2005-2006.
Berdasarkan perumusan tersebut diperoleh gambaran tingkat PDRB Kabupaten/Kota di Jawa Barat berdasarkan Klassen Typology sebagaimana tabel 1 serta gambar 1 dan 2.

Terlihat bahwa pergeseran perubahan KT tahun 2005-2006 ke tahun 2005-2008 “hanya” dialami oleh dua Kab/Kota, yaitu Kabupaten Bogor menurun dari kuadran III ke kuadran IV, dan Kota Tasik meningkat dari kuadran IV ke kuadran II. Penurunan Kuadran Kab. Bogor terjadi karena pada awalnya (2005-2006) telah berada nyaris di ambang kuadran III dan IV, sehingga dengan perkembangan yang “merayap” menjadikan mudah tergelincir ke kuadran lainnya. Berbeda dengan yang terjadi pada Kota Tasik yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, sehingga dapat berpindah dari kuadran IV ke II, sementara Kab. Kerawang walaupun memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi namun karena pada awalnya memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang paling rendah belum dapat berpindak kuadran.
Untuk hal tersebut guna lebih menjelaskan perubahan KT tahun 2005-2008, maka digunakan ambang batas pengukuran KT sesuai dengan ambang batas yang digunakan sebelumnya (KT 2005-2006), sehingga terlihat perubahan yang cukup berarti, yang dialami oleh 6 kab/kota, yang dalam kasus ini mengalami peningkatan kuadran, yaitu: Kab. Bandung, Kab. Bekasi, Kota Bogor, Kota Sukabumi, Kota Bekasi, dan Kota Tasik.

Tabel 1
Perkembangan Pendapatan per kapita dan Pertumbuhan PDRB Kab/Kota di Jawa Barat
Tahun 2005-2006 dan Tahun 2005-2008


Gambar 1
Diagram Pencar LPE dan PDRB/cap Kab/Kota se- Jawa Barat Tahun 2005-2006
berdasarkan Klassen Typologi

Gambar 2
Diagram Pencar LPE dan PDRB/cap Kab/Kota se- Jawa Barat Tahun 2005-2008
berdasarkan Klassen Typologi

Berdasarkan gambaran spasial seperti terlihat pada gambar 3 terlihat bahwa keberhasilan pembangunan selama tahun 2005-2008 telah dapat merubah dari 18 Kab/Kota yang termasuk dalam kuadran IV pada tahun 2005 menjadi 13 Kab/Kota yang masih termasuk dalam kuadran IV pada tahun 2008.


Analisa Gini Ratio
Gini Ratio atau Koefisien Gini merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan sebagai alat ukur dalam menentukan tingkat ketimpangan distribusi pendapatan suatu daerah. Ide dasar perhitungan koefisien Gini sebenarnya berasal dari upaya pengukuran luas suatu kurva (kurva Lorenz) yang menggambarkan distribusi pendapatan untuk seluruh kelompok pendapatan (Hera Susanti, dkk;1995;107). Dengan kriteria jika koefisien Gini bernilai nol (0) maka pendapatan didistribusikan secara merata dengan sempurna. sebagai patokan dapat dibagi dalam tiga kategori yaitu jika lebih kecil dari 0,4 maka tingkat ketimpangan rendah; jika antara 0,4 hingga 0,5 maka tingkat ketimpangan moderat, dan jika lebih tinggi dari 0,5 maka tingkat ketimpangan tinggi.
Secara matematis indeks Gini diformulasikan sebagai berikut:

Dimana: P sama dengan pendapatan (pendapatan perkapita); dan Y sama dengan jumlah penduduk

Berdasarkan perhitungan diperoleh banwa selama kurun waktu 2005-2008 tingkat distribusi pendapatan per kapita antar kab/kota di Jawa Barat mencapai walaupun masih dalam taraf/ tingkat ketimpangan rendah (dibawah 0,4) namun mengalami peningkatan dengan nilai indeks Gini dari tahun 2005 hingga 2008 secara berturut-turut yaitu: 0,2972; 0,2974; 0,2989; dan 0,2998. Tingkat ketimpangan tahun 2008 tergambarkan pada Kurva Lorenz sebagaimana gambar 4.

Gambar 4
Kurva Lorenz Distribusi PDRB perKap Kab/Kota di Jawa Barat Tahun 2008

Analisa Distribusi PDRB Menurut Kriteria Bank Dunia (Word Bank)
Berdasarkan kriteria Bank Dunia, ketimpangan/ketidakmerataan distribusi pendapatan suatu daerah dapat dilihat dengan mengukur besarnya kontribusi dari 40% penduduk termiskin. Menurut kriteria Bank Dunia, tingkat ketidakmerataan dalam distribusi pendapatan dinyatakan tinggi apabila 40% penduduk dari kelompok berpendapatan rendah menerima lebih kecil dari 12% dari jumlah pendapatan, tingkat ketidakmerataan sedang apabila kelompok tersebut menerima 12% sampai 17% dari jumlah pendapatan, dan tingkat ketidakmerataan rendah apabila kelompok tersebut menerima lebih besar dari 17% dari jumlah pendapatan. (Tulus;2001;78-79)
Dengan asumsi bahwa Pendapatan perkapita per daerah (Kab/Kota) berdasarkan data PDRB merupakan Pendapatan/Pengeluaran penduduk, maka akan diperoleh persentase pendapatan dan persentase jumlah penduduk dari tingkat yang terrendah/termiskin hingga tertinggi/terkaya. Dan dengan menggunakan rumus interpolasi untuk deretan angka yang berpasangan (Xi berpasangan dengan Yi)akan diperoleh persentase pengeluaran dari 40% penduduk termiskin.

Secara matematis rumus interpolasi diformulasikan sebagai berikut:

Sehingga diperoleh persentase pengeluaran 40% penduduk termiskin selama kurun waktu 2005 hingga 2008 tidak kurang dari 23% dari total pengeluaran. Dengan demikian tingkat disparitas PDRB Kabupaten/Kota di Jawa Barat, berdasarkan kriteria Bank Dunia selam kurun waktu 2005-2008 memiliki tingkat ketimpangan yang rendah. Gambaran persentase pembagian total pendapatan/pengeluaran dapat dilihat pada table 2 dan gambar 5.
Tabel 2
Persentase Pembagian Total Pendapatan per Kapita
Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2008



Gambar 5
Peta Pembagian Total Pendapatan Per Kapita Kab/Kota di Jawa Barat berdasarkan Kriteria Bank Dunia Tahun 2008

Sebagai mana maksud tulisan ini yaitu untuk melihat perkembangan keberhasilan pembangunan yang dijalankan selama kurun waktu 2005-2008, tentunya sangatlah bijak jika untuk kondisi tahun 2008, tetap menggunakan ambang batas Kriteria Bank Dunia untuk tahun 2005, yaitu untuk batas 40% penduduk termiskin memiliki batas atas penghasilan per kapita (Ycap) sebesar Rp.3.810.911,00 dan untuk 20% penduduk terkaya memiliki batas bawah Rp.5.972.443. (perhitungan tetap menggunakan metoda interpolasi), maka gambaran perubahan/ keberhasilan pelaksanaan pembangunan dapat tergambarkan dalam gambar 6.
Gambar 6
Peta Perubahan Disparitas Berdasarkan Kriteria Bank Dunia Tahun 2005 – 2008 dengan tetap menggunakan Batas Y cap tahun 2005.


Terlihat bahwa keberhasilan pembangunan selama tahun 2005-2008 telah dapat merubah dari 11 Kab/Kota yang termasuk dalam kelompok 40% berpendapatan terendah pada tahun 2005 menjadi 6 Kabupaten yang masih termasuk dalam 40% berpendapatan rendah pada tahun 2008, berdasarkan kriteria Bank Dunia tahun 2005.



Analisis Indeks Williamson
Secara umum untuk mengetahui tingkat ketimpangan antardaerah, dapat dilakukan dengan menggunakan indeks Williamson yang secara matematis diformulasikan sebagai berikut:

Dengan menggunakan kriteria sebagaimana kriteria indeks Gini, maka berdasarkan perhitungan ketimpangan antardaerah yang terjadi di Provinsi Jawa Barat selama kurun waktu 2005-2008, meskipun terjadi penurunan, termasuk dalam kategori tinggi, dengan nilai secara berturut-turut 0,662; 0,654; 0,645; dan 0,641.

KESIMPULAN DAN SARAN
Secara umum pembangunan yang telah dilaksanakan di Provinsi Jawa Barat selama kurun waktu 2005-2008 telah menghasilkan perubahan yang positif, dalam arti telah dapat mempertahankan struktur dan pola perekonomian daerahnya, sehingga peranan masing-masing daerah, baik peran sebagai daerah “perkotaan” bagi Kota dan Kota/Kabupaten penyangga Ibu Kota Negara maupun sebagai daerah “perdesaan” bagi Kabupaten tetap dapat berfungsi sebagaimana peranannya. Keberhasilan inipun dilengkapi dengan tingkat ketimpangan distribusi pendapatan yang rendah, sebagaimana terlihat dari Kurva Lorenz dan hasil perhitungan Indeks Gini serta Nilai Kriteria Bank Dunia.
Namun dilihat dari perkembangannya, pada tahun 2008 masih terdapat 12 Kabupaten dan 1 Kota yang masih berada di kuadran IV berdasarkan Klassen tipologi; dan masih terdapat 6 Kabupaten yang masih berada di golongan berpendapatan perkapita terendah berdasarkan batas tahun 2005.
Kedua kondisi ini dapat dijadikan sebagai bahan sasaran utama pembangunan Provinsi Jawa Barat, terutama kepada Kabupaten/ Kota yang memiliki kedua kondisi tersebut yaitu Kabupaten Sukabumi, Majalengka, Cirebon, Cianjur, Tasikmalaya, dan Kuningan.
Dilihat dari tingkat ketimpangan distribusi pendapatan antardaerah, Provinsi Jawa Barat memiliki tingkat yang cukup tinggi, hal ini sulit untuk dihindari karena adanya peranan yang berbada antara kabupaten dan kota, terutama Kota Bandung (termasuk Kota Cimahi) dan Kota Cirebon sebagai daerah Pusat Kegiatan Nasional (PKN) serta Kota Bekasi sebagai Kota satelit Ibu Kota Negara yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi. Namun hal ini pun perlu dijadikan fokus kebijakan pembangunan di Provinsi Jawa Barat guna terciptanya kemajuan ekonomi yang disertai pemerataan distribusi pendapatan antar daerah.

DAFTAR PUSTAKA
Hera Susanti, dkk; 1995; Indikator-indikator Makro Ekonomi
Sjafrizal; Prisma Maret 1997; Pertumbuhan Ekonomi & Ketimpangan Wilayah Indonesia Bagian Barat.
Tulus T.H Tambunan; 2001; Perekonomian Indonesia Read More..

Rabu, 06 Juli 2011

KUMPULAN PETA


Sudah sejak lama rencana ingin menyimpan berbagai peta daerah yang mungkin suatu saat dibutuhkan, namun slalu terhambat oleh kesibukan pekerjaan sehari-hari.

Dipaksa oleh kebutuhan yang mendesak karena harus mengantar putriku untuk melanjutkan sekolah ke Kota Purwokerto, maka sayapun meng-googling peta kota tersebut yang dapat di print minimal dalam kertas A3, dan ternyata sulitnya minta ampun, namun Alhamdulillah saya mendapatkan peta versi flash. Dan untuk memudahkan dalam perjalanan nanti tentunya harus diubah ke format picture dalam hal ini saya menggunakan format jpg (tak lupa peta flash-nyapun akan saya upload ulang).

Insyaallah pada bulan-bulan berikutnya dapat saya upload peta-peta lainnya, dan seperti biasa mudah-mudahan bermanfaat. salam bahagia....


Peta PURWOKERTO (jpg) 
Peta PURWOKERTO (flash) 




Read More..

Senin, 30 Mei 2011

Tips & Trik Excel: Membilang Bilangan (Konversi Nomor ke Kata/Kalimat)


Bekerja di bidang keuangan (finance) yang pembukuannya dilakukan dengan menggunakan software komputer (dalam hal ini Excel), mau tidak mau harus dapat menampilkan konversi nomor/bilangan ke kata/kalimat atau biasa disebut dengan istilah yang sering kita lihat di kuitansi-kuitansi yaitu “terbilang”.

Cara yang termudah memang dengan menuliskannya secara langsung, namun hal ini tentunya selain kurang efisien juga rawan kesalahan membilang. Untuk hal tersebut, salah-satu cara yang efektif dan tentunya tidak akan terjadi lagi kesalahan dalam membilang, maka diperlukan sebuah program makro excel.

Adapun program tersebut seperti dibawah ini (tinggal dicopy paste pada makro excel anda):

    Dim triliun As Currency
    Dim milyar As Currency
    Dim juta As Currency
    Dim ribu As Currency
    Dim satu As Currency
    Dim sen As Currency
    Dim baca As String
    If x > 1000000000000# Then
       Terbilang = "< nilai di atas satu triliun rupiah >"
       Exit Function
    End If
    'Jika x adalah 0, maka dibaca sebagai 0
    If x = 0 Then
       baca = angka(0, 1)
    Else
       'Rumus utk memisahkan masing-masing bagian: triliun, milyar, juta, ribu, rupiah, dan sen
       triliun = Int(x * 0.001 ^ 4)
       milyar = Int((x - triliun * 1000 ^ 4) * 0.001 ^ 3)
       juta = Int((x - triliun * 1000 ^ 4 - milyar * 1000 ^ 3) / 1000 ^ 2)
       ribu = Int((x - triliun * 1000 ^ 4 - milyar * 1000 ^ 3 - juta * 1000 ^ 2) / 1000)
       satu = Int(x - triliun * 1000 ^ 4 - milyar * 1000 ^ 3 - juta * 1000 ^ 2 - ribu * 1000)
       sen = Int((x - Int(x)) * 100)
       'Rumus utk membaca bagian triliun beserta akhirannya
       If triliun > 0 Then
          baca = ratus(triliun, 5) + "triliun "
       End If
       'Rumus utk membaca bagian milyar beserta akhirannya
       If milyar > 0 Then
          baca = ratus(milyar, 4) + "milyar "
       End If
       'Rumus utk membaca bagian juta beserta akhirannya
       If juta > 0 Then
          baca = baca + ratus(juta, 3) + "juta "
       End If
       'Rumus utk membaca bagian ribu beserta akhirannya
       If ribu > 0 Then
          baca = baca + ratus(ribu, 2) + "ribu "
       End If
       'Rumus utk membaca bagian ratusan beserta akhiran rupiah
       If satu > 0 Then
          baca = baca + ratus(satu, 1) + "rupiah "
       Else
          baca = baca + "rupiah"
       End If
       'Rumus utk membaca bagian sen beserta akhiran sen
       If sen > 0 Then
          baca = baca + ratus(sen, 0) + "sen"
       End If
    End If
    Terbilang = UCase(Left(baca, 1)) & LCase(Mid(baca, 2))
End Function

Function ratus(x As Currency, Posisi As Integer) As String
    Dim a100 As Integer, a10 As Integer, a1 As Integer
    Dim baca As String
    a100 = Int(x * 0.01)
    a10 = Int((x - a100 * 100) * 0.1)
    a1 = Int(x - a100 * 100 - a10 * 10)
    'Rumus utk membaca bagian ratusan
    If a100 = 1 Then
       baca = "Seratus "
    Else
       If a100 > 0 Then
          baca = angka(a100, Posisi) + "ratus "
       End If
    End If
    'Rumus utk membaca bagian puluhan dan satuan
    If a10 = 1 Then
       baca = baca + angka(a10 * 10 + a1, Posisi)
    Else
       If a10 > 0 Then
          baca = baca + angka(a10, Posisi) + "puluh "
       End If
       If a1 > 0 Then
          baca = baca + angka(a1, Posisi)
       End If
    End If
    ratus = baca
End Function

Function angka(x As Integer, Posisi As Integer)
    Select Case x
        Case 0: angka = "Nol"
        Case 1:
            If Posisi <= 1 Or Posisi > 2 Then
               angka = "Satu "
            Else
               angka = "Se"
            End If
        Case 2: angka = "Dua "
        Case 3: angka = "Tiga "
        Case 4: angka = "Empat "
        Case 5: angka = "Lima "
        Case 6: angka = "Enam "
        Case 7: angka = "Tujuh "
        Case 8: angka = "Delapan "
        Case 9: angka = "Sembilan "
        Case 10: angka = "Sepuluh "
        Case 11: angka = "Sebelas "
        Case 12: angka = "Duabelas "
        Case 13: angka = "Tigabelas "
        Case 14: angka = "Empatbelas "
        Case 15: angka = "Limabelas "
        Case 16: angka = "Enambelas "
        Case 17: angka = "Tujuhbelas "
        Case 18: angka = "Delapanbelas "
        Case 19: angka = "Sembilanbelas "
    End Select
End Function


Adapun cara/langkah membuatnya pada Excel adalah: 
  1. Pastikan Tab “Developer” pada Excel 2007 hidup (berada di jajaran Home-Insert-Page Layout- dst), jika belum hidup maka lakukan klik pada tombol/lambang Microsoft Office (pojok kiri atas), lalu klik “Excel Options”, di dalam bagian “Popular”, pilih/centang “Show Developer tab in teh Ribbon”, lalu klik “OK”
  2. Atau jika tidak ingin melalui Tab “Developer-Visual Basic” (tanpa melakukan langkah nomor 1) bisa langsung menggunakan short cut yaitu dengan memencet “Alt-F11” (berlaku juga untuk Excel 2003) sehingga muncul jendela baru Microsoft Visual Basic.
  3. Setelah muncul jendela Microsoft Visual Basic, klik “Insert-Module”, selanjutnya tinggal copy-paste-kan rumus diatas ke module tersebut dan seve modul tersebut.
  4. Selesai, anda tinggal menggunakan rumus tersebut pada worksheet excel anda dengan menuliskan “=terbilang(alamat cell refesensi)” contoh: pada cell A1 ditulis 100 dan A3 dituliskan rumus =terbilang(A1) maka hasilnya di cell A3 akan tertulis “seratus”.
S’moga membantu. Read More..

Jumat, 27 Mei 2011

Tips nTrik Excel : Gambar Dinamis


Dalam pengelolaan data, seringkali kita berhadapan dengan formulir yang perlu disampaikan secara cepat dan tepat waktu, seringkali pula dalam formulir tersebut diperlukan gambar/foto yang berbeda, tentunya sesuai dengan isian formulirnya (misal: nama seseorang tentu harus sesuai dengan yang bersangkutan). Contoh penggunaan sehari-hari adalah untuk membuat form kartu pelajar/pegawai/nasabah dll.

Memang biasanya software yang sering digunakan adalah software data base seperti access, dbase dll. namun ternyata excel-pun memiliki fitur tersebut. 

Adapun subtansi sederhana/singkatnya langkah yang diperlukan adalah:
  1. Siapkan foto/gambar yang akan digunakan.
  2. Insertkan seluruh foto/gambar yang diinginkan ke excel dengan syarat: 1 gambar 1 cell (contoh diurut/ditempatkan ke bawah: gambar1 di cell A1, gambar2 di cell A2, gambar3 di cell A3, dst)
  3. Sorot/ blok cell yang  berisi gambar (contoh: cell A1sampai A4) lalu klik name box isikan “gambar” (tulis tanpa kutip), atau bisa juga melalui Insert-Name-Define (Excel 2003); klik kanan-Define Name (Excel 2007)
  4. Selanjutnya buatlah form yang diinginkan dengan referensi pencarian misalkan berada di cell C1 (isikan sembarang nilai misalkan 1). Berikan Fill Color agar kita ingat. Lalu pilih sembarang cell yang belum terisi misalkan C2, lalu berikan Define Name “pilih” (tulis tanpa kutip juga) dengan merubah pada bagian Refers To dengan =index(gambar;$C$2)
  5. kemudian insertkan sembarang gambar ke form yang telah dibuat/tersedia, lalu klik gambar tersebut dan beri tulisan di formula bar “=pilih” (tulis tanpa kutip)
  6. Beres dech, tinggal mencoba memasukan angka pada cell C1
  7. Selanjutnya tinggal kreativitas anda. ok. s'moga terbantu. 

catatan:
-         kumpulan gambar sebaiknya di buat di sheet berbeda.
-         agar syarat terpenuhi 1 gambar 1 cell, lakukan pengecilan gambar melalui klik gambar lalu tarik kecilkan, atau klik kanan gambar-format picture-size.
-         Pengecilan gambar berpengaruh kepada hasil.
-         Untuk gambar yang disimpan mendatar (contoh di cel A1, B1, C1, D1, dst) maka rumus yang digunakan point 4 adalah contoh: “=index(gambar;1;$C$2)”
Read More..